Kejutan dan Kegetiran dalam Cerpen Eka Kurniawan
Selain kejutan, yang khas dari cerpen-cerpen Eka Kurniawan dalam buku ini adalah kegetiran.

Saya lupa kapan pertama kali membeli buku Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Kumpulan cerpen Eka Kurniawan itu terbit pertama kali pada Maret 2015, saat saya sudah pindah ke Yogyakarta. Jadi, mungkin saya membelinya di Toko Buku Gramedia Sudirman atau Toga Mas Kotabaru.
Selama beberapa tahun terakhir, saya membaca banyak buku yang ditulis Eka Kurniawan. Saya telah membaca sejumlah novelnya, dari Cantik Itu Luka; Lelaki Harimau; Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas; dan O. Satu-satunya novel Eka yang belum saya baca adalah Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong yang terbit tahun 2024.
Lamat-lamat saya juga ingat sudah membaca beberapa kumpulan cerpen Eka, seperti Corat-coret di Toilet, Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya, serta Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya. Namun, entah kenapa saya sepertinya lupa telah membaca Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.
Mungkin karena novel-novel Eka lebih meninggalkan jejak panjang setelah saya membacanya—terutama Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau—dibanding cerpen-cerpennya sehingga saya sepenuhnya lupa telah membeli dan membaca Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.
Itulah kenapa, saat datang ke bazar buku di gudang penerbit Mizan di Yogyakarta pada Desember 2025, saya dengan yakin membeli kumpulan cerpen tersebut di antara beberapa buku lainnya. Apalagi, buku tersebut hadir dengan sampul baru sehingga saya kian tak ingat sudah memiliki kumpulan cerpen itu.
Saat beberapa hari kemudian saya membuka buku itu lalu mulai membacanya, saya mulai ingat bahwa sepertinya saya pernah membaca buku tersebut. Saya lalu bergegas menuju rak buku di rumah dan mulai mencari.
Tanpa perlu waktu lama, saya akhirnya menemukan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi edisi sampul lama yang telah saya beli dan baca sebelumnya. Buku lama itu merupakan edisi pertama cetakan pertama yang terbit pada Maret 2015.
Adapun versi baru yang barusan saya beli adalah edisi kedua cetakan keempat yang terbit pada Oktober 2025. Perbedaan edisi satu dan dua di buku itu tampaknya ada pada sampulnya. Sebab, cerpen-cerpen yang ada di dalam dua edisi tersebut ternyata sama persis.
***
Seingat saya, ini bukanlah kali pertama saya membeli buku yang sudah saya punya sebelumnya. Seperti sebelumnya, saya juga tak terlalu menyesal membeli buku yang sama lebih dari satu eksemplar. Toh buku yang dobel itu banyak fungsinya, bisa jadi hadiah untuk teman, disumbangkan ke perpustakaan, atau ya dibaca lagi dan disimpan.
Dalam kasus Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, saya memutuskan untuk membaca buku edisi baru itu. Awalnya saya mengira bakal merasakan pengalaman seperti membaca buku baru karena saya toh sudah lupa pernah membaca buku itu. Namun, ketika membaca satu per satu cerpen di buku tersebut, pelan-pelan memori saya kembali.
Saat membaca cerpen pertama yang berjudul “Gerimis yang Sederhana”, saya lamat-lamat mengingat sosok Mei, tokoh utama cerpen itu, yang pergi ke Amerika Serikat setelah tragedi 1998. Dia punya trauma dengan pengemis, tetapi saat berjumpa dengan kenalan baru bernama Efendi, mereka justru berbicara panjang lebar soal pengemis.
Ketika membaca cerpen berikutnya, “Gincu Ini Merah, Sayang”, saya juga merasakan hal yang sama. Di awal-awal cerita, saya masih belum ngeh kenapa Marni harus datang ke sebuah bar pada dini hari. Alur cerita kemudian bergerak, sedikit meliuk, dan akhirnya saya mengingat lamat-lamat soal kisah cinta Marni dan Rohmat Nurjaman yang getir-getir gimana itu.
Saya juga merasa masih mengingat dengan cukup baik cerpen “Penafsir Kebahagiaan”. Meski sudah lupa dengan pembukaan cerpen itu, ingatan saya mulai kembali saat Siti mengenang kilas balik pertemuannya dengan Jimmi di sebuah tempat prostitusi di Jakarta.
Saat itu, Jimmi mengajak Siti pergi ke Amerika untuk menjadi teman tidur sejumlah mahasiswa di sana secara bergantian. Siti menerima tawaran ganjil tetapi kemudian terbukti menguntungkan itu sehingga dia lalu tinggal di sebuah apartemen di Amerika.
Kisah hidup Siti kemudian berubah jadi kompleks ketika Markum datang ke apartemen itu saat Jimmi sedang liburan. Peristiwa ini kemudian diakhiri dengan sebuah kegetiran yang mengejutkan.
Saat membaca bagian akhir cerpen itu, saya akhirnya benar-benar yakin sudah pernah membaca kisah tersebut. Bahkan, saya merasa masih mengingat perkataan Jimmi pada Markum dan bagaimana respons Markum di penutup cerpen itu.
Ingatan kuat tentang bagian akhir sebuah kisah juga muncul saat membaca cerpen “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi”. Sejak awal hingga menjelang akhir, saya hanya lamat-lamat mengingat alur cerpen ini. Namun, saat membaca perkataan Sayuri kepada Maya di akhir kisah, saya sepenuhnya yakin sudah pernah membaca cerpen itu sebelumnya.
Dari sejumlah cerpen Eka Kurniawan dalam buku ini, yang paling meninggalkan kesan kuat buat saya adalah hadirnya plot twist atau kejutan pada bagian tengah atau akhir cerita. Menurut saya, beberapa cerpen paling menarik dalam buku ini selalu menyajikan alur yang tak bisa ditebak oleh pembaca.
Selain kejutan, yang khas dari kisah-kisah dalam Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi adalah kegetiran. Hampir semua cerpen dalam buku itu didominasi oleh kegetiran dan kepahitan hidup yang dialami tokoh-tokohnya.
Eka memang menghadirkan kisah cinta pada sejumlah cerpen dalam buku itu. Namun, cinta dalam beberapa cerpen tersebut adalah cinta yang getir dan seringkali tak berujung pada kebahagiaan. Bahkan, cerpen “Membuat Senang Seekor Gajah” yang menghadirkan tokoh anak-anak—serta jelas-jelas menggunakan kata “senang” di judulnya—ternyata tetap menghadirkan kegetiran yang begitu pahit.



Komentar
No comments yet