Melepaskan Na Willa dari Bayang-bayang Jumbo
Barangkali kita harus menonton dan menikmati Na Willa tanpa bayang-bayang Jumbo.

Mau tidak mau, suka tidak suka, film terbaru Ryan Adriandhy, Na Willa, bakal sering dibandingkan dengan Jumbo, film animasi yang ia produksi sebelumnya. Perbandingan ini bukan hanya menjadi “beban” bagi Ryan, tetapi tampaknya juga “menghantui” pikiran banyak penonton.
Hal itu antara lain tampak dalam sejumlah komentar di media sosial X soal Na Willa yang kerap disertai perbandingan dengan Jumbo. Perbandingan itu pun kadang berujung pada penilaian bahwa salah satu film lebih baik atau lebih buruk dibanding film lainnya.
Jumbo memang meninggalkan kesan bagi banyak orang dan bahkan menjadi salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa. Oleh karena itu, wajar jika banyak orang terus menyinggung film tersebut saat membicarakan Na Willa.
Padahal, meski sama-sama merupakan film anak, Na Willa dan Jumbo sebenarnya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Perbedaan pertama tentu saja karena Jumbo merupakan film animasi, sedangkan Na Willa bukan.
Perbedaan kedua berkait dengan struktur cerita—dan tampaknya perbedaan inilah yang membelah pendapat banyak orang mengenai dua film tersebut. Mereka yang sudah menonton Jumbo pasti tahu bahwa film tersebut digerakkan oleh sebuah plot dan jalinan cerita yang sangat solid.
Semesta cerita Jumbo berpusat pada kehidupan Don sebagai anak yatim piatu yang kerap dirundung teman-temannya. Don bersama beberapa sahabatnya lalu ingin membuktikan diri dengan membuat pentas seni berbasis cerita dari buku dongeng yang dibuat oleh kedua orangtuanya.
Saat menyiapkan pentas seni itu, Don dan beberapa sahabatnya bertemu Meri, sosok “hantu” cilik yang sama sekali tak menyeramkan. Meri lalu membantu Don untuk membuat pentas seni yang spektakuler, sedangkan Don berjanji membantu Meri untuk mencari arwah orangtuanya yang terpisah.
Upaya Don bersama kawan-kawannya dalam membantu Meri ini kemudian berujung pada petualangan fantastis yang bersinggungan dengan kisah Atta beserta kakaknya. Ada juga tokoh Pak Kades yang menjadi antagonis dalam film ini.
Meskipun Meri dan Atta punya kisah tersendiri, alur kisah pada Jumbo tetap berpusat pada Don. Petualangan Don beserta teman-temannya, termasuk Meri dan Atta, menjadi cerita utama yang menggerakkan film ini. Berbagai peristiwa dalam film ini pun bisa dikatakan selalu memiliki hubungan dengan kisah hidup Don yang ingin membuktikan diri agar tak dirundung lagi oleh teman-temannya.

Kondisi yang berbeda terjadi pada Na Willa. Dalam film adaptasi buku karya Reda Gaudiamo itu, banyak kisah kecil yang seolah berdiri sendiri dan tidak diikat menjadi satu jalinan cerita yang solid.
Kisah Na Willa yang sering diajak ibunya pergi ke pasar, cerita ayah Na Willa yang bekerja di kapal sehingga kadang lama tak pulang, juga narasi ihwal persahabatan Na Willa dengan Farida, Bud, dan Dul, seolah berdiri sendiri-sendiri. Kisah-kisah tersebut seolah hanya menjadi cuplikan dari kehidupan Na Willa, bukan sengaja dirancang untuk menggerakkan plot film ini.
Itulah kenapa, pada bagian awal film, penonton mungkin merasa sedang menonton sejumlah cerita acak dari kehidupan sang tokoh utama. Bahkan, kejadian paling dramatis dalam film ini, yakni kecelakaan yang menimpa salah satu teman Na Willa, awalnya juga terasa seperti peristiwa acak.
Beberapa peristiwa dalam Na Willa memang sangat menarik, misalnya saat Na Willa ikut belajar mengaji di rumah Farida, acara pernikahan kakak Farida yang diam-diam diwarnai kesedihan, serta pertemuan Na Willa dengan Dul di rumah sakit. Namun, penonton tak akan mudah menemukan kaitan kejadian-kejadian itu dengan plot utama film ini.
Bahkan, hingga pertengahan film itu, sebagian penonton mungkin masih meraba-raba arah plot Na Willa. Pada pertengahan menuju akhir film, Ryan akhirnya menghadirkan narasi yang merajut sejumlah peristiwa menjadi sebuah kesatuan. Pada bagian ini, kita mungkin mulai memahami alur kisah inti dari film tersebut, lalu pelan-pelan mulai menyadari adanya hubungan sejumlah peristiwa yang sebelumnya tampak acak.
Meski begitu, tetap saja cerita Na Willa terasa tak sesolid Jumbo. Dalam Na Willa, tak ada misi besar dan petualangan fantastis yang menjadi inti dari film tersebut. “Petualangan” Na Willa bersekolah sebenarnya sangat menarik dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut, tetapi kisah ini hanya dominan di akhir film.
Akan tetapi, penilaian bahwa “cerita Na Willa tak sesolid Jumbo” mungkin mengandung bias karena kita mengasumsikan ada sebuah kriteria tunggal yang bisa digunakan untuk menilai semua film anak. Barangkali, dalam Na Willa, Ryan sedang menguji coba cara penceritaan yang berbeda dengan Jumbo.
Oleh karena itu, jika Na Willa terasa berbeda dengan Jumbo, mungkin kita tak perlu buru-buru menjatuhkan vonis mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk. Barangkali kita perlu menikmati Na Willa bukan sebagai kisah petualangan atau perjuangan ala Jumbo, tetapi sebagai kronik kehidupan dari seorang anak yang penuh rasa ingin tahu, pemberani, sekaligus kritis.
Dengan begitu, barangkali kita bakal bisa menikmati banyak peristiwa lucu dan unik dalam Na Willa secara apa adanya, tanpa berharap kejadian-kejadian itu memiliki relasi dengan plot utama film. Pada akhirnya, yang mungkin perlu kita lakukan adalah menonton dan menikmati Na Willa tanpa bayang-bayang Jumbo.



Komentar
No comments yet