Pada akhir November lalu, saya melihat sebuah postingan di media sosial Threads tentang sebuah proyek bernama Laravel Nusa. Ini adalah proyek yang menyediakan data administrasi wilayah Indonesia untuk aplikasi berbasis Laravel, framework dari bahasa pemrograman PHP yang biasanya digunakan untuk pengembangan aplikasi web.

Laravel Nusa menyediakan data siap pakai terkait wilayah administrasi Indonesia yang bisa digunakan untuk memudahkan pengembangan aplikasi berbasis Laravel. Data di Laravel Nusa mencakup wilayah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan.

Berdasarkan informasi di situs resminya, Laravel Nusa memiliki data wilayah administrasi dari 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, 7.285 kecamatan, serta 83.762 desa/kelurahan. Data tersebut dilengkapi dengan koordinat, batas wilayah, dan kode pos. Di repository GitHub proyek itu, data di Laravel Nusa disebut mengacu pada Keputusan Mendagri Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025.

Meski tujuan utamanya adalah integrasi di aplikasi Laravel, data di Laravel Nusa juga bisa diakses oleh aplikasi yang dibangun dengan framework atau bahasa pemrograman yang berbeda. Hal ini karena Laravel Nusa menyediakan RESTful API yang bisa menjadi jembatan untuk mengakses data wilayah administrasi di proyek itu.

Saat pertama kali membaca soal Laravel Nusa, saya langsung tertarik untuk mengulik lebih jauh. Sebagai jurnalis, saya punya ketertarikan khusus pada jurnalisme data, termasuk dalam hal visualisasi data. Salah satu bentuk visualisasi data adalah visualisasi peta.

Dalam beberapa kesempatan, saya pernah membuat visualisasi peta di Flourish dan Datawrapper untuk melengkapi karya jurnalistik yang saya kerjakan. Salah satu visualisasi yang pernah saya buat adalah peta sebaran warga yang meninggal di rumah saat pandemi Covid-19 di Yogyakarta.

Oleh karena itu, saat tahu pertama kali soal Laravel Nusa, saya merasa antusias karena data di proyek tersebut sepertinya bisa dimanfaatkan untuk memudahkan pembuatan visualisasi peta. Setelah membaca dokumentasi Laravel Nusa dan berdiskusi dengan Claude, saya memutuskan mencoba mengembangkan sebuah proyek bernama Peta Nusa.

Tentu saja pengembangan itu dilakukan dengan vibe coding karena saya tak bisa ngoding. Dengan bantuan Claude Opus 4.5 di Droid, saya akhirnya berhasil membuat situs Peta Nusa yang menyajikan peta wilayah Indonesia dengan format GeoJSON. Data batas wilayah atau peta di situs Peta Nusa berasal dari Laravel Nusa.

Tujuan utama Peta Nusa adalah memudahkan orang dari beragam latar belakang, seperti peneliti, dosen, mahasiswa, jurnalis, software engineer, dan sebagainya, untuk mengunduh peta wilayah Indonesia dalam format GeoJSON.

Sebaran lokasi halte bus di Kota Yogyakarta di situs petanusa.web.id.
Sebaran lokasi halte bus di Kota Yogyakarta di situs petanusa.web.id.

Di Peta Nusa, pengguna bisa mengunduh peta wilayah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, serta kelurahan/desa dengan beberapa opsi batas wilayah. Misalnya pengguna ingin mengunduh peta Jawa Tengah, dia bisa memilih apakah peta itu memiliki batas wilayah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, atau kelurahan/desa.

Saat pengguna memilih wilayah beserta batasnya, akan muncul informasi mengenai jumlah poligon di peta tersebut. Semakin detail batas wilayah yang dipilih, semakin banyak pula poligon.

Sebagai gambaran, peta Jawa Barat dengan batas wilayah kabupaten/kota hanya memiliki 27 poligon. Namun, peta Jabar dengan batas wilayah desa/kelurahan mempunyai 5.957 poligon. Semakin banyak poligon, makin besar ukuran file-nya dan makin lama proses unduhnya.

Selain peta suatu wilayah, pengguna juga bisa mengunduh peta gabungan sejumlah wilayah di Peta Nusa, misalnya peta Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan pulau besar lain. Di halaman peta gabungan situs Peta Nusa, pengguna juga bisa mengunduh peta Indonesia dengan batas wilayah provinsi atau kabupaten/kota.

Peta dengan format GeoJSON itu bisa digunakan untuk beragam keperluan, misalnya membuat visualisasi peta interaktif untuk keperluan jurnalistik atau penelitian, mengintegrasikan peta ke dalam aplikasi atau website, dan sebagainya.

Namun, yang perlu dicatat, peta dari situs Peta Nusa tidak memiliki resolusi tinggi sehingga tidak bisa digunakan untuk penetapan batas wilayah, survei pertanahan, pemetaan skala besar, dan penyusunan dokumen legal.

Meski datanya bersumber dari proyek Laravel Nusa yang disusun berdasarkan Kepmendagri No 300.2.2-2138 Tahun 2025, peta yang diunduh dari Peta Nusa juga bukan peta resmi pemerintah. Jika membutuhkan peta resmi dari pemerintah, silakan kunjungi situs Ina-Geoportal yang dikelola Badan Informasi Geospasial (BIG).

Pada awal Desember lalu, saya mengunggah postingan di Threads soal Peta Nusa. Postingan itu kemudian mendapat banyak tanggapan sehingga jumlah pengunjung ke situs Peta Nusa melonjak. Bahkan, pada hari pertama perkenalan ke publik itu, jumlah unduhan peta di situs Peta Nusa langsung mencapai lebih dari 300 kali.

Adapun hingga pertengahan Desember ini, jumlah unduhan peta di Peta Nusa mencapai lebih dari 900 kali. Bagi saya, angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk mengakses file peta wilayah Indonesia ternyata cukup besar.

Belakangan, saya juga menambahkan fitur di situs Peta Nusa untuk mengunduh data lokasi fasilitas umum atau sarana dan prasarana, seperti sekolah, rumah sakit, pasar, halte bus, dan lainnya. Data lokasi sarana dan prasarana itu diambil dari OpenStreetMap melalui Overpass API. Namun, kelengkapan data itu bisa bervariasi antar-wilayah karena data di OpenStreetMap bergantung pada kontribusi komunitas dan sukarelawan.

Untuk kawan-kawan yang membutuhkan peta wilayah Indonesia atau data lokasi sarana dan prasarana, silakan mengecek situs Peta Nusa. Semoga platform ini bisa memberi manfaat kepada banyak orang.